vanilla twilight

Friday, November 20, 2009

Song-struck.. I'm hooked on Owl City. First it was "Fireflies" and now this one
cekidot**

The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere

'Cause I'll doze off safe and soundly
But I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you, dear
'Cause I wish you were here

I'll watch the night turn light-blue
But it's not the same without you
Because it takes two to whisper quietly

The silence isn't so bad
'Till I look at my hands and feel sad
'Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly

I'll find repose in new ways
Though I haven't slept in two days
'Cause cold nostalgia chills me to the bone
But drenched in Vanilla Twilight
I'll sit on the front porch all night
Waist deep in thought because when I think of you
I don't feel so alone (3x)

As many times as I blink I'll think of you
tonight
I'll think of you tonight

When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again
And I'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh, if my voice could reach
Back through the past I'd whisper in your ear
Oh darling, I wish you were here


video



**copyright mas-mas berbagi pikiran

jingga

Sunday, November 8, 2009

"Di... jangan cepat-cepat jalannya!"
"Aduh Sita, lelet... Kita memang harus buru-buru, kalau nggak nanti kelewatan."

Aku merasa amat bodoh... Kemarin saat istirahat Adi bilang mau mengajakku ke tempat yang sangat spesial, dan tak seorang pun tahu. Tak kusangka aku termakan omongannya, pengalaman yang menarik tersebut ternyata harus meliputi jalan kaki yang jauh, memasuki pedesaan, melalui berbagai parit dan sekarang aku berada di tengah-tengah sawah antah-berantah.

Zzzzrrttttt...

"Adi, barusan tadi apaan?"
"Rewel deh, paling cuma ular", ungkap Adi sambil terus berjalan.
"ADA ULAR?!"
"Ya elah sit, ular sawah mah nggak berbisa."

Aku terdiam, tak terbayangkan dalam benakku apa jadinya kalau aku melangkah dan dililit ular sawah tak berbisa. Kasihan ibuku, ayahku dan kakak-adikku. Mereka pasti akan merasa amat kehilangan...

"Adi aku takut"
"Grrr... Cewek tuh memang bikin repot. Sini..."
Adi menarik tanganku, tanpa ada kesan romantis sedikit pun. Aku merasa diseret-seret sepanjang perjalanan.

Hari itu kami berangkat dari rumah setelah Ashar. Aku sebenarnya tak tahu ke mana tujuan kami. Selama ini aku sering mendengar cerita-cerita Adi mengenai petualangan-petualangan kecilnya. Nampaknya dia sudah punya puluhan cerita untuk dikemas menjadi sebuah buku. Adi merasa kesal dengan reaksiku yang datar-datar saja diiringi dengan ungkapan sarkasmeku yang sebatas "Oh ya?", "Masa sih?" dan "Wow...". Akhirnya dia berkata "Aku buktikan deh Sit, tapi masalahnya, kamu berani nggak ikut sama aku?" Pertanyaan menantang seperti itu tak mungkin kutolak. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawab "Kapan kita berangkat?"

"Permisi Bu..."
"Mau ke mana Mas Adi?"
"Biasa bu..."
"Hati-hati nak"

Aku tersenyum sambil menganggukan kepalaku kepada ibu petani tersebut. Setelah kami berlalu kutanya kepada Adi siapa gerangan tadi yang disapanya.

"Oh, itu Ibu Diah, petani di sini."
"Kok kamu kenal?"
"Aku sering membantunya ketika sedang panen."

Brukk..
Aku menabrak Adi.
"Duh, kok berhentinya tiba-tiba sih? Ada apa di?"
Adi tak menjawab pertanyaanku. Kutengok ke depan dan melihat sungai melintang di depan kami. Alirannya nampak cukup deras.

"Tunggu sebentar ya Sit..."
Adi perlahan berjalan memasuki sungai tersebut. Aku memperhatikannya dari tempatku berdiri.
Mata kaki...
Betis...
Lutut...

Akhirnya aliran sungai terukur sampai di atas lututnya.
"Nggak terlalu dalam kok Sit, cukup dangkal." sahutnya.
"Dangkal dari Hong Kong! Di, jelas-jelas aku lebih pendek dari kamu, sekalian aja aku berenang daripada tanggung basah kuyup sampai pinggang."
"Sipp", jawabnya sambil mengacungkan jempol.
"Eh, Adi mau ke mana?"
"Loh, kan katanya kamu mau berenang... Aku tunggu ya di seberang." Ungkapnya, diikuti dengan senyuman jenakanya.

Sial...

Dapat kurasakan aliran sungai yang dingin ketika kulangkahkan kakiku memasuki air. Kulihat ke depan, ternyata Adi sudah tidak ada. Dia benar-benar meninggalkanku.
Alirannya deras... Ya Allah, semoga sendalku tidak copot terbawa sungai. Kalau tidak...

"Mau berenang neng? Sini saya temani."

Aku terbelangak, dan saat kumenoleh, Adi sudah berada di belakangku.
"Loh kok?"
"Hehehe... Aku nggak tega Sit, ngebiarin kamu basah kuyup, mending lewat situ aja yuk." Adi menunjuk ke sebelah Timur. Tidak jauh dari tempat kami berdiri, kulihat ada pohon tua melintang yang bisa dijadikan jembatan untuk menyebrangi sungai.

"Jadi, dari tadi kamu cuma iseng doang? Kamu tahu kalau kita bisa nyebrang di sana?"
"Kan aku emang sering ke sini neng geulis. Aku cuma pengen tahu aja, seberapa beranikah dirimu?", kata Adi sambil menyipitkan mata dan mengepalkan tangannya.
"Rese, nggak penting deh."
"Hahahaha... Ayo sini, nggak usah cemberut gitu." Adi menawarkan tangannya, yang kutepis dengan segera.
"Kamu lucu deh kalau lagi marah", ungkapnya dengan gemas.
"Udah deh, katanya tadi kita musti cepat-cepat. Kita mau ke mana?"
"Ikuti aku si bolang!"

Setelah berhasil menyeberangi sungai, kami memasuki hutan yang rindang. Ranting serta dahan-dahan pohon menjuntai dari berbagai arah. Dapat kulihat, sinar matahari menembus sela-sela rimbunan pepohonan. Kuamati di sekeliling kami tak ada satupun rumah penduduk. Semakin dalam kami berjalan, semakin hening suasananya. Suara aliran sungai pun lama-kelamaan tersamarkan.

Adi berjalan di depan sambil menggenggam kompas yang menjadi panduannya.
Sok aksi banget, kayak ngerti aja bacanya gimana...
Kuperhatikan gundukan tanah yang kami lewati. Aku melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak barisan serangga yang ikut serta dalam perjalanan kami. Kupu-kupu kecil bertaburan di sekitar kami, suara burung menggema di sela-sela pepohonan. Dari sudut mataku, kusimak sosok makhluk-makhluk kecil bergerak lincah. Aku berlari kecil untuk menyamakan langkahku dengan Adi.

"Kenapa Sit?"
"Nggak..."

Nampaknya para binatang menyadari kehadiran kami, dua anak manusia yang tersesat di daerah mereka. Sebenarnya satu anak yang tersesat, yang satunya lagi nampak sudah tak asing lagi dengan kawasan tersebut.

“Waaaaaa…” Adi tiba-tiba berteriak dengan amat lantang.
“Hwwaaa…” Aku pun ikut teriak, saking terkejutnya aku terjatuh.
Adi tertawa terpingkal-pingkal. Aku berdiri dan mengibaskan tanah yang menempel pada bajuku.

“Sita takut?” Adi bertanya, sambil membalikkan badan dan melanjutkan perjalanan.
“Ayo cepat, nanti kita terlambat.” Adi melambaikan tangannya, mengisyaratkanku untuk bergegas.

Cukup...
Dengan kesal, kulepaskan sendal sebelah kananku dan kulempar dengan segenap hati.

BLETAK

tepat pada sasaran.
Aku tersenyum dengan penuh kemenangan.

“Aduh, apaan sih?”Adi mengusap-usap kepalanya sembari menatapku.
Aku berdiri bertolak pinggang, geram dengan keisengannya.
Adi membungkuk dan mengambil sendalku yang tergeletak di tanah, senjata yang baru saja menghantam kepalanya. “Sendal bagus kok dibuang-buang, dasar aneh..”
“Sit, lemparanmu kurang mantap. Perhatikan aku ya, kuberi contoh cara melempar yang benar.”
Kulihat Adi melempar sejauh-sejauhnya sekuat tenaga, dalam sekejap benda itu lenyap ke dalam hutan.

Sendalku…

Aku tak bisa berkata-kata.
Salahmu sendiri Sita…
Jangan coba-coba menantangnya, tidak akan bisa menang dari Adi.

Dengan sebelah kaki beralaskan sendal, aku menghampirinya. Rasa lelah dan kesal sudah bercampur aduk. Aku hanya ingin petualangan ini segera berakhir agar aku dapat kembali pulang ke rumah.

“Sebentar lagi kok Sit” Adi menepuk bahuku. Aku mengangguk tanpa semangat dan mengikutinya. Tak lama kemudian, kami berhenti di depan pohon yang amat tinggi.
Adi mendongak ke atas, “Siap Sit?”
“Siap naon?”
“Kamu nggak takut ketinggian kan?”
Aku menggelengkan kepalaku, “Nggak…”
“Ya udah, mau aku duluan atau kamu duluan?”
“Maksud kamu manjat pohon ini?” jawabku sambil menunjuk ke pohon yang puncaknya hampir menyentuh langit.
Adi mengangguk.
Dengan tenaga otakku yang masih tersisa aku berpikir sejenak, kusingkirkan emosiku dan kugunakan logikaku.

Hmm.. Kalau aku manjat duluan, nanti dikerjaiin Adi dari belakang. Tapi kalau Adi manjat duluan, nanti aku nggak tahu apa yang ada di belakang aku, kalau nanti ada ular lagi.. Hiii…

“Aku duluan” dan kutanggalkan sendal jombloku, dan mulai memanjat. Untungnya pohon tersebut tidak terlalu berlumut, sehingga aku mudah menapakkan kakiku. Kemampuanku memanjat pohon memang bisa digolongkan sebagai pemula, tapi ini bukan pertama kalinya aku memanjat. Kalau naiknya sih tidak masalah, tapi kalau turunnya…

Setelah beberapa waktu, Adi tak kurun juga mengisyaratkan kami untuk berhenti, ia nampak sabar mengikuti gerakan memanjatku yang lambat. Tiba-tiba aku terpeleset, pijakan kakiku kurang tepat sehingga serpihan kayu berhamburan ke bawah, tepat di muka Adi.
“Aduh, maaf di...”
“Nggak apa-apa. Terus aja sit…”
“Iya di”
Aku kembali memanjat ke atas dengan perlahan, terkadang pandanganku tersilaukan oleh matahari senja yang semakin lama terlihat semakin jelas.

Tak lama kemudian, kudengar Adi memanggilku dari bawah,
“Sit, di sebelah kanan kamu, ada batang kayu. Berhenti di situ ya”
Kutengok ke samping kananku dan dengan hati-hati kuberpijak di batang kayu yang Adi sebutkan. Kemudian Adi menyusul dan duduk di sampingku. Kami berada di posisi yang amat tinggi. Deru anging menyapaku, mengibaskan helaian rambut di wajahku dan menyeka keringat di keningku.
“Jadi menurutmu bagaimana?” Tanya Adi.
Kuacuhkan pertanyaannya sembari menepuk-nepuk kedua tanganku, untuk membersihkan serpihan kayu dan lumut yang melekat.
“Ih, ditanyaiin kok diem aja”
“Bentar kenapa? Nggak liat apa orang lagi capek, napas dulu kali”, jawabku kesal.
Adi tertawa kecil.
“Coba lihat ke depan deh Sit”

Aku terpana… Sudah puluhan kali aku melihat matahari terbenam, namun entah mengapa kali ini sungguh berbeda. Kesal, letih, dan emosiku menguap dalam seketika. Aku terhisap dalam ketakjubkanku
“Subhannallah…”

Tak sepatah kata pun terucap, kami berdua terpukau menatap langit yang seketika diselimuti oleh beragam warna.. merah, oranye, kuning.
Awan bergulung silih berganti, perlahan menggeser satu sama lain. Kesunyian menemani kami menyaksikan salah satu keindahan alam yang merupakan anugerah dan bukti akan keagungan Yang Maha Kuasa.
Sungguh mempesona…

Kami bisa melihat segalanya dari atas sini. Sekolah kami, rumah-rumah penduduk, sungai yang tadi hampir kuselami. Sawah dan ladang padi yang kami lalui nampak seperti petak-petak kecil dengan petani-petani mungil.

Tiba-tiba Adi memecahkan keheningan, “Aku mau keliling dunia Sit.”
Aku meliriknya, “Semua orang juga pengen kali Di” jawabku.
Adi menggelengkan kepalanya.
“Aku serius Sit. Ingin kukunjungi tempat-tempat yang kita pelajari di buku-buku atau di TV. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, tidak hanya sebatas membaca deskripsi dari rangkaian kata-kata dalam lembaran buku. Aku ingin mengalami petualangan nyata yang tak terhalangi oleh layar kaca.”
“Aku akan kirim kartu pos ke kamu Sit, dari setiap tempat yang aku kunjungi.”

Aku yakin bila diantara kami akan ada yang berkelana ke negeri seberang, maka Adi-lah orangnya. Tanpa memalingkan pandanganku dari sang mentari,
“Siiippp dah, tapi kartu posnya musti foto kamu lagi salto ya?” ucapku sekenanya.
Kami berdua tertawa terbahak-bahak dikelilingi oleh kemerahan matahari senja yang perlahan meredup.

---------------

“Neng Sita”. Kudengar bibi memanggilku.
Kubuka pintu kamarku dan bertanya, “Sudah datang bi?”
Dengan segera, kuhampiri bibiku yang baru saja mengosongkan kotak surat kami. Kutelusuri tumpukan surat tersebut.
Dari bank, tagihan listrik, telepon, internet (waduh bahaya nih) buat papa, buat mama…
Sampai akhirnya aku sampai pada sepucuk kartu pos yang selalu kunanti kehadirannya.
“Makasih ya bi” kukembalikan surat-surat lainnya dan berlalu ke atas kembali ke kamarku.
Bibi tersenyum memandangku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kunyalakan I-tunes lalu kembali merebahkan diri di kasur empukku. Kuamati kartu pos tersebut, kutelusuri sudutnya, perangko dengan warna bendera merah, putih dan hijau yang dicap 16 September 2004. Pada bagian depannya terpampang foto dari seseorang yang amat kukenal, si Bolang sedang salto di depan menara Pisa.
Aku tersenyum kecil, lalu kubalik kartu pos tersebut,


“Dear Sita,

Alessandro del piero nesta giuseppe baresi cannavaro enrico alfonso paolo maldini …Apa artinya? kalimat tadi tidak lain hanyalah rentetan nama pemain-pemain bola Italia. Sayang sekali Sit, aku belum terlalu mahir untuk bisa menulis kartu pos ini dalam bahasa Italia …”



xoxoxo
_DQ-


vital insignificance

Saturday, November 7, 2009

The heat was killing me...
I've been fooled by the weather man. This morning, he mentioned, "heavy rain and strong wind". I totally bought what he said, and left my apartment with three layers of clothing (not including my coat). Now I'm staring at the thermometer : 90 F and it's been gradually rising.
Bloody weather man, he should be charged with fraud..

I've been trying to turn on the fan for the past hour. But this thing looked more like something from the 80's. Maybe it is that old, since I have an air-conditioner-equals-CFC-equals-greenhouse-gas Boss. I appreciate his green action and totally support his rally on saying "No to Global Warming!"
But honestly...
I don't think he would want any of our potential customers to find me unconscious on the counter due to severe dehydration. I mean, what would I say at the ER when the doctors asked me?
"I passed out because my boss was too cheap to get an air conditioner?"
I don't think so...

Rrrrr...finally the ancient fan started to spin, and I could feel the cold breeze against my face. Now that I'm done cooling myself down, I returned to the scattered paper work on top of the counter. As I was sorting it out, the front door opened. I looked up and a tall,lanky, middle-aged man entered.

He was very neat, with his brown shirt buttoned up, straightly ironed khaki pants, and his oval face framed with round-shaped glasses. On his right hand, he carried a bronze birdcage, and inside it, sat an elegant delicate white dove.

He approached the counter and carefully placed the cage on top of the desk.

"Good afternoon sir, how may I help you?" I asked.
"Hi, I'm Mr. Gritham, I've called earlier regarding..."
"Yes of course, Mr Gritham we've been expecting you."
"So, this must be Nancy." I referred to the dove.

He nodded politely.
I took out a file under the name "Gritham" from our cabinet, and handed it over to him.
"Would you please sign here, here and right there at the corner."

Mr. Gritham ran his eyes down the agreement contract before finally marking his signature.

"Nancy would be kept here for the next three days, and payments could be made on the day that you pick her up. If there is an emergency, and you need to extend longer than the specified date, please notify us, and we'll be sure to make the apporpriate arrangements. Is there anything else that I may be of assistance?"

"No, thank you. That would be all."
"All right, have a nice day Mr. Gritham." As I was about to move Nancy to the backroom, he held on to the cage.

"Wait, may I?" he asked.
I smiled, "Of course."

This regularly happens, when the owners have been very attached to their pets, parting for a few days may seem like an eternity.

He opened the cage, and carefully took Nancy out and placed her in his arms. Gently, he stroked the top of her head, patting it, and smoothly run his fingers over her spotless smooth white feathers.

You could tell that Nancy has been very well taken care of, she was quite robust and her feathers are neatly aligned and very immaculate. She is a prim dove. I wonder how frequent Mr. Gritham cleans her?

Then I noticed something. All along, Mr. Gritham had that particular look on his face. It was very calm, kind and tender. An expression I was far too familiar with.

Soon after, he placed Nancy back in her cage.

"Thanks", he mentioned.
"Not a problem sir, Nancy will be in good hands." I answered with an assuring voice.

He smiled weakly and made his way out the door into the sunny and crowded street.

I took Nancy into our backroom, and on our way I whispered,
"You're very lucky Nancy, you've got someone who loves you dearly."

Nancy looked at me obliviously, and simply chirps along joyfully
and unknowingly...


xoxoxo
_DQ-

crazy beautiful

Thursday, November 5, 2009

As I was heading home today, I thought to myself...

I love the November sun radiating its warmth against my skin
I love the wind, silently whispering into my ear and softly caressing my cheeks
I love the trees dancing in the hot summer air

I love the clear blue water
I love the swift coldness engulfing my body as I dove into the water
I love the splashing sound as I reach up and gasp for air
I love the silence as my head ducks underwater
I love the shadow underneath me, outlining my every move

I love raindrops on top of my head
I love walking through puddles, and have my feet coated with grubby mud
I love my unruly-uncombed-scruffy hair, covering my face constantly
I love my earphone, echoing sweet tunes

I love my sleepless nights
I love my chaotic days

I love my "negotiable" diet
I love my salad and ice-cream
I love coco-pops with vanilla milk

I love my imperfect friends
I love my unrealistic dreams
I love my uncertain future
I love my family unconditionally, near or far

I love my life
and
I live to love


Alhamdulillah hirabbil 'alamin...


xoxoxo
_DQ-

mengasah imajinasi

Wednesday, October 28, 2009

Hari ini gw baru saja mengumpulkan tugas Ujian Tengah Semester dari mata kuliah Metode Berpikir Kreatif. As part of the test, we were asked to discuss a particular phenomenon and we had to give reasons as to why we chose that topic, as well as provide a solution.

What was my topic?

Long Distance Relationship... ;)

Here's what I submitted :

Banyak sekali pasangan yang melakukan hubungan jarak jauh, baik sebagai kekasih maupun pasangan suami-istri. Saya ingin mengkaji fenomena ini karena secara pribadi saya tidak yakin akan hubungan jarak jauh. Saya merasa bahwa pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh, sedikit persentase-nya yang berhasil. Jarang berjumpa, ketidak-setiaan, berat di ongkos dan kejenuhan menjadi hal-hal negatif yang berkaitan dengan hubungan jarak jauh.
Berikut adalah keunggulan dan kerugian yang disebutkan berbagai pasangan yang telah menjalankan hubungan jarak jauh :

KEUNGGULAN
• Karena jarang ketemu, jadi benar-benar kangen
• Tidak mudah bosan
• Banyak cerita saat bertemu
• Tantangan yang memberikan varietas
• Membuat jadi lebih dewasa
• Membuat jadi lebih sabar
• Pertengkaran jarang terjadi karena lebih baik waktu “ngobrol” yang ada dipakai untuk berbagi cerita
• Tidak terkekang
• Memiliki waktu yang lebih banyak untuk berkegiatan : belajar, atau bermain dengan teman-teman
• Memiliki kebebasan seseorang yang single namun masih mendapatkan perhatian dan kasih sayang layaknya pasangan lain.
• Bisa lebih banyak cuci mata

KERUGIAN
• Karena jarang ketemu, jadinya cari pelarian
• Mencari perhatian ke orang lain
• Ketika bertengkar besar, harus menempuh jarak untuk bertemu dan menyelesaikan masalah
• Harus ada usaha lebih untuk mempertahankan keberlangsungan hubungan
• Banyak pengorbanan : korban perasaan dan materi
• Capek
• Tekanan Batin
• Biaya telepon melonjak
• Ada “jarak” sebagai orang ke-tiga
• Mudah curiga
• Kepercayaan daLinkn kesetiaan diuji
• Intensitas bertemu amat sedikit :
o 2 kali sebulan
o 2 kali setahun
• Ketika komunikasi terhentikan akhirnya putus (6 tahun LDR, kemudian putus di tengah jalan
• Bisa lebih banyak cuci mata ke yang lain
• Ketika “chatting” kata-kata yang diucapkan tidak merepresentasikan apa yang dimaksud
• Menebak-nebak keadaan emosi pasangan berdasarkan analisa suara ataupun kata-kata.


Dari berbagai macam alasan, dua kunci utama yang berpengaruh besar dalam kelancaran hubungan jarak jauh adalah kepercayaan dan komunikasi. Rasa ketidak-percayaan dan curiga tentunya akan menjadi dominan dalam hubungan jarak jauh, sehingga penting untuk saling memberi kabar dan bertukar informasi untuk membangun kepercayaan agar hubungan dapat terus berlanjut dengan baik.

Ketika sang pasangan (suami atau kekasih) baru saja kembali dari luar (luar kota maupun luar negeri) sudah dipastikan ingin menghabiskan waktu sebisa mungkin bersama. Karena waktu yang amat sedikit diluangkan untuk satu sama lain dan jarangnya frekuensi bertemu maka alangkah baiknya kalau komunikasi selama berada di dua tempat yang berbeda, didukung oleh teknologi yang canggih.

Pada awalnya prasarana yang mendukung komunikasi hubungan jarak jauh adalah surat-menyurat. Kemudian berubah menjadi telepon-menelepon. Lalu teknologi terus berkembang sehingga sekarang telah hadir telepon genggam yang sudah dilengkapi dengan camera. Hubungan komunikasi juga berlangsung di dunia maya, melalui sarana “electronic mail” dan “chatting” yang juga dilengkapi dengan web-cam.

Kalau saja ada pintu kemana saja seperti milik Doraemon, masing-masing pasangan secara fisik harus meninggalkan apa yang sedang mereka kerjakan sehingga terbengkalai dan kemungkinan besar ada perbedaan waktu tempat antara masing-masing pasangan.

Solusi yang menurut saya paling baik adalah time-portal-freezer (TPF). Alat ini amat kecil, dan direkatkan ke bagian belakang telinga pengguna.



Tujuan dari alat ini adalah agar pasangan yang menjalankan hubungan jarak jauh dapat berjumpa pada situasi dan kondisi apapun. Dengan demikian para pasangan dapat menghilangkan rindu yang berlebih ketika benar-benar ingin berjumpa. Misalkan terjadi pertengkaran, atau salah satu diantara sang pasangan mengalami kejadian tragis sehingga benar-benar membutuhkan kehadiran sang pasangan secara fisik. Apabila ingin berjumpa, maka alat ini adalah kuncinya.

Masing-masing pasangan memiliki alat ini, baik yang pria maupun yang wanita. Kemudian direkatkan di bagian belakang telinga, dan dengan seketika warnanya akan berubah sehingga senada dengan kulit sehingga tidak akan terlihat jelas.

Dengan adanya alat ini, sepasang kekasih bisa saling kontak batin. Alat ini dapat diaktifkan dan di non-aktifkan serta dilengkapi dengan gelang pengontrol.

Contohnya, A dan B adalah pasangan. Ketika A mengaktifkan TPF dan menghubungi B, maka gelang B akan berubah menjadi dingin sehingga sang pasangan akan tahu bahwa A ingin menhubunginya. Saat B menyadari, maka ia akan mengaktifkan mengaktifkan TPF yang terletak di belakang telinganya. Cara mengaktifkan TPF amat mudah, tidak perlu repot menekan tombol, namun cukup dengan mengatakan dalam benak “Aktifkan”.
Ketika masing-masing TPF telah diaktifkan, maka A dan B dapat saling melakukan kontak batin untuk berkomunikasi.

Langkah selanjutnya adalah untuk melakukan “On Location Time Freezer”.
A dan B masing-masing adalah dua individu yang berada di tempat berbeda di mana mereka melakukan aktivitas secara kontinu. Kemungkinan mereka sedang berada dalam rapat, ujian, menonton film atau dalam perjalanan, apapun hal tersebut bisa dihentikan sesaat selama berlangsungnya teleportasi.

Terlihat pada bagan TPF controller bracelet, “On Location Time Freezer” adalah lingkaran putih dengan titik putih ditengahnya. Pengguna mengaktifkan On Location Time Freezer dengan menyentuh titik tersebut.



Sebenarnya alat “On Location Time Freezer” tidak menghentikan waktu, melainkan memperlambat waktu. Selama berlangsungnya teleportasi (aktivasi alat) maka terjadi perubahan waktu, dimana 1 milisecond pada dunia nyata = 1 menit teleportasi. Waktu diperlambat dengan amat extrim sehingga nampak seperti tehentikan.

Batas waktu maksimal berlangsungnya teleportasi adalah dalam durasi 1 detik. (dalam waktu teleportasi adalah 1000 menit = 16.67 jam )

Setelah menekan “On Location Time Freezer”, A dan B kemudian dapat bersama-sama berteleportasi melalui lorong waktu untuk berjumpa di tempat yang diinginkan. Pada tempat yang dituju, misalkan kota X, waktu tidak terhentikan, melainkan berjalan seperti biasanya, sehingga A dan B dapat menikmati waktu bersama dalam keadaan normal. Tempat yang dituju tidak terbatas. A dan B dapat pergi ke daerah manapun di permukaan bumi.

Alat TPF adalah terobosan terbaru yang dapat menghilangkan faktor jarak dan waktu yang menghalangi suatu hubungan. Secara ringkas cara kerja alat ini adalah sebagai berikut :
ketika pasangan jarak jauh ingin melakukan kontak, gelang akan menjadi dingin.
Langkah-langkah selanjutnya adalah :
1) Mengaktifkan alat kontak batin
2) Melakukan kontak batin dengan pasangan
3) Mengaktifkan “On Location Time Freezer”
4) Melakukan Teleportasi dengan batas waktu 1 detik dunia nyata (dalam teleportasi = 1000 menit = 16.67 jam)

Tidak akan ada yang dapat menggantikan rasa bahagia ketika pasangan dapat berjumpa dan menghabiskan waktu bersama dengan satu sama lain. Diharapkan dengan adanya alat ini, pasangan yang berhubungan jarak jauh dapat berjumpa kapanpun dan dimanapun mereka berada.


Ini alat kalau gw jual laku nggak ya?


xoxoxo
_DQ-

sing to the dawn

Wednesday, October 7, 2009

Laba-laba sunda nyasar di kalimantan, kupu-kupu meledak karena bau badan (basket), tuan tanah berperawakan roma irama alias elvis nggak jadi..

Those things I mentioned were merely a small part of hal-hal "menarik" yang bisa dilihat di Mengejar Mimpi

Mengejar Mimpi? Film anak-anak itu?..

Ya begitulah, gw dan teman gw weekend lalu sempat bengong blo'on di depan bioskop karena bingung mau nonton apa.

"Get Married 2, biar bisa lihat rumahnya Alien.."

"Tapi ini film colosal kayaknya lumayan, The Last Legion.." (posternya nggak seberapa, dan ternyata it was a 2007 production, jadul abis)

"Kalau Meraih Mimpi gimana Rav?"

"Serius loe.. Tapi kan loe ogah nonton film animasi"

Akhirnya setelah pertikaian nggak penting yang meliputi pendownloadan film lain dari rileks, dan poster film yang kurang menarik, kami berdua menentukan pilihan kami.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik dan mencintai karya-karya dalam negeri, (most importantly karena salah satu dari kami menjunjung tinggi idealisme) maka kami memutuskan untuk menonton film animasi pertama Indonesia..

..Meraih Mimpi..


Baru 10 menit, kepala kami sudah puyeng..


Layar dipadati oleh beraneka karakter-karakter aneh. Ada yang ingin berlaga menjadi roma irama, bapak-bapak berkaus kutang yang menjodohkan anak perempuannya dengan anak sang juragan roma irama..Sang anak gadis yang baru berumur 11 tahun kecewa berat saat menyadari bahwa pasangan hidupnya adalah duplikat roma-irama-elvis-wannabe, she was stunned and ran towards the river kemudian diikuti dengan nyanyian curahan hati bersama burung kakak tua dan burung beo..

Tiba-tiba, teman gw yang seumur-umur nggak pernah nonton film animasi berkomentar,

"Rav, kok aneh sih, gerakan mulut dan omongannya nggak sama."
Kayak film-film dubbingan india-indonesia..

"Maklum lah, namanya juga animasi pertama Indonesia"

Alur cerita pun semakin semarak. Kita bertemu dengan adik Dana, yang namanya entah siapa, tapi selalu diikuti dengan side-kick-nya, the spiky-haired ape. (Yes, orang utan dengan rambut di gel.. funky abies)


Sang adik yang berhalusinasi that he's Bruce Lee's reincarnation



Ada bos-bos kontraktor berbadan "Ade Rai" yang gemar bermain dengan mesiu, bapak guru yang bajunya nggak ganti-ganti, diikuti dengan kakek gila jereng yang mengkoleksi wayang..

The point of the story : Penduduk kampung di we-don't-know-where rumahnya akan digusur oleh juragan maruk yang ingin membangun tempat perjudian. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka adalah sepucuk surat wasiat yang konon terletak di dalam gunung antah berantah.

Gw nggak habis pikir, kenapa mereke musti bikin cerita yang terlalu ngejelimet.

Saking banyaknya settingan, perumahan penduduk yang terkadang rumah panggung terkadang rata dengan tanah, wayang-wayang keraton dan candi yang berpintu barong bali, kami mulai bertanya-tanya..

"Ini di mana sih settingan lokasinya?"

"Kalimantan, Sulawesi, Sumatera..?"

Sampai sekarang we haven't figured out the exact location of this movie..

Satu hal yang menonjol dari film ini adalah pemilihan "logat" dari karakter-karakter animasi..
Karakter : Juragan maruk mata duitan
Logat : Bokap Gaoel Jakarta

Karakter : Kontraktor berbadan besar dan kejam
Logat : Batak

Karakter : Nenek Dana yang amat bijaksana
Logat : Puteri Jawa nan Ayu

I mean, kids are easily influenced and you shouldn't teach them these kind of stereo-types..
In reality I've met rude and abnoxious Javanese as well as generous and kind-hearted people from Medan..





All in all, animasinya kayak kisah petualangan "Taro" yang suka ada di tivi-tivi..


xoxoxo
_DQ-

not mine

Friday, October 2, 2009

Pagi ini, gw merogoh kantong jeans dan menemukan selembar 10 ribuan dan 2 helai ribuan yang sudah kusam dan sobek-sobek.

Hmmm.. I should take some money out..

Awal bulan memang merupakan waktu yang dinanti-nanti oleh jutaan umat. Rencana gw setelah baru saja dihajar UTS adalah memanjakan diri.. Entahlah, wether it's shopping, watching a movie or a fancy lunch.

So I strolled down to the nearest ATM..


Pilihlah Bahasa yang anda inginkan :
Bahasa Indonesia

Masukkan PIN anda :
8***
hahaha.. nggak mungkin gw tulis juga kalee

Apa yang ingin anda ketahui :
Informasi Saldo Tabungan


Melihat angka yang keluar, gw langsung kecewa.. Yah, masa cuma ada 30 ribuan in my account..Nampaknya belum di transfer..

I text my mother on the spot, dan saat gw mengetik jumlah uang yang tersisa in my account, I realized something..

Hold on a sec..
That's not 30,000

That's...

30,000,000!!

AN***T!!!...
WTF!!!..

I freaked out..
Right at that moment, gw langsung ngeliat ke sekeliling, waiting for someone to come out and say "Gotcha!"

There's gotta be a mistake...

I took out my atm card, reinserted it and prayed that the numbers would go back to a normal, reasonable amount. But nothing happened, all I could see was the same 8 digits staring straight back at me.

Could someone have mistakenly transfered a large sum of money to MY ACCOUNT?
Dulu gw juga pernah kejadian, orang salah transfer pulsa ke HP gw.
but that was 10,000 rupiah and I've returned it..

Who the hell transferred it to me? Was it meant for someone else? How am I supposed to pay him/her back?

Sebelum gw ribet berpikir lebih dalam, I sent a text to my mom, informing her of the whole I-have-too-much-money-in-my-account-and-I-don't-know-why situation.

Soon, my mother called.

"Iya bih, mimih lupa bilangin ke kamu, itu uang asuransi baru cair.. Nitip dulu di account kamu, terus nanti kamu transfer ya."

Oh..

The money's origin was clear now..
I wasn't being pranked
and I didn't win a lucky draw from "Bank Kece Bagi-bagi Hadiah"


I was relieved.. but kind of dissapointed..

If only...


xoxoxo
_DQ-