"Di... jangan cepat-cepat jalannya!"
"Aduh Sita, lelet... Kita memang harus buru-buru, kalau nggak nanti kelewatan."
Aku merasa amat bodoh... Kemarin saat istirahat Adi bilang mau mengajakku ke tempat yang sangat spesial, dan tak seorang pun tahu. Tak kusangka aku termakan omongannya, pengalaman yang menarik tersebut ternyata harus meliputi jalan kaki yang jauh, memasuki pedesaan, melalui berbagai parit dan sekarang aku berada di tengah-tengah sawah antah-berantah.
Zzzzrrttttt..."Adi, barusan tadi apaan?"
"Rewel deh, paling cuma ular", ungkap Adi sambil terus berjalan.
"ADA ULAR?!"
"Ya elah sit, ular sawah mah nggak berbisa."
Aku terdiam, tak terbayangkan dalam benakku apa jadinya kalau aku melangkah dan dililit ular sawah tak berbisa. Kasihan ibuku, ayahku dan kakak-adikku. Mereka pasti akan merasa amat kehilangan...
"Adi aku takut"
"Grrr... Cewek tuh memang bikin repot. Sini..."
Adi menarik tanganku, tanpa ada kesan romantis sedikit pun. Aku merasa diseret-seret sepanjang perjalanan.
Hari itu kami berangkat dari rumah setelah Ashar. Aku sebenarnya tak tahu ke mana tujuan kami. Selama ini aku sering mendengar cerita-cerita Adi mengenai petualangan-petualangan kecilnya. Nampaknya dia sudah punya puluhan cerita untuk dikemas menjadi sebuah buku. Adi merasa kesal dengan reaksiku yang datar-datar saja diiringi dengan ungkapan sarkasmeku yang sebatas "Oh ya?", "Masa sih?" dan "Wow...". Akhirnya dia berkata "Aku buktikan deh Sit, tapi masalahnya, kamu berani nggak ikut sama aku?" Pertanyaan menantang seperti itu tak mungkin kutolak. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawab "Kapan kita berangkat?"
"Permisi Bu..."
"Mau ke mana Mas Adi?"
"Biasa bu..."
"Hati-hati nak"
Aku tersenyum sambil menganggukan kepalaku kepada ibu petani tersebut. Setelah kami berlalu kutanya kepada Adi siapa gerangan tadi yang disapanya.
"Oh, itu Ibu Diah, petani di sini."
"Kok kamu kenal?"
"Aku sering membantunya ketika sedang panen."
Brukk..Aku menabrak Adi.
"Duh, kok berhentinya tiba-tiba sih? Ada apa di?"
Adi tak menjawab pertanyaanku. Kutengok ke depan dan melihat sungai melintang di depan kami. Alirannya nampak cukup deras.
"Tunggu sebentar ya Sit..."
Adi perlahan berjalan memasuki sungai tersebut. Aku memperhatikannya dari tempatku berdiri.
Mata kaki...Betis...Lutut...Akhirnya aliran sungai terukur sampai di atas lututnya.
"Nggak terlalu dalam kok Sit, cukup dangkal." sahutnya.
"Dangkal dari Hong Kong! Di, jelas-jelas aku lebih pendek dari kamu, sekalian aja aku berenang daripada tanggung basah kuyup sampai pinggang."
"Sipp", jawabnya sambil mengacungkan jempol.
"Eh, Adi mau ke mana?"
"Loh, kan katanya kamu mau berenang... Aku tunggu ya di seberang." Ungkapnya, diikuti dengan senyuman jenakanya.
Sial...Dapat kurasakan aliran sungai yang dingin ketika kulangkahkan kakiku memasuki air. Kulihat ke depan, ternyata Adi sudah tidak ada. Dia benar-benar meninggalkanku.
Alirannya deras... Ya Allah, semoga sendalku tidak copot terbawa sungai. Kalau tidak...
"Mau berenang neng? Sini saya temani."
Aku terbelangak, dan saat kumenoleh, Adi sudah berada di belakangku.
"Loh kok?"
"Hehehe... Aku nggak tega Sit, ngebiarin kamu basah kuyup, mending lewat situ aja yuk." Adi menunjuk ke sebelah Timur. Tidak jauh dari tempat kami berdiri, kulihat ada pohon tua melintang yang bisa dijadikan jembatan untuk menyebrangi sungai.
"Jadi, dari tadi kamu cuma iseng doang? Kamu tahu kalau kita bisa nyebrang di sana?"
"Kan aku emang sering ke sini neng geulis. Aku cuma pengen tahu aja, seberapa beranikah dirimu?", kata Adi sambil menyipitkan mata dan mengepalkan tangannya.
"Rese, nggak penting deh."
"Hahahaha... Ayo sini, nggak usah cemberut gitu." Adi menawarkan tangannya, yang kutepis dengan segera.
"Kamu lucu deh kalau lagi marah", ungkapnya dengan gemas.
"Udah deh, katanya tadi kita musti cepat-cepat. Kita mau ke mana?"
"Ikuti aku si bolang!"
Setelah berhasil menyeberangi sungai, kami memasuki hutan yang rindang. Ranting serta dahan-dahan pohon menjuntai dari berbagai arah. Dapat kulihat, sinar matahari menembus sela-sela rimbunan pepohonan. Kuamati di sekeliling kami tak ada satupun rumah penduduk. Semakin dalam kami berjalan, semakin hening suasananya. Suara aliran sungai pun lama-kelamaan tersamarkan.
Adi berjalan di depan sambil menggenggam kompas yang menjadi panduannya.
Sok aksi banget, kayak ngerti aja bacanya gimana...Kuperhatikan gundukan tanah yang kami lewati. Aku melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak barisan serangga yang ikut serta dalam perjalanan kami. Kupu-kupu kecil bertaburan di sekitar kami, suara burung menggema di sela-sela pepohonan. Dari sudut mataku, kusimak sosok makhluk-makhluk kecil bergerak lincah. Aku berlari kecil untuk menyamakan langkahku dengan Adi.
"Kenapa Sit?"
"Nggak..."
Nampaknya para binatang menyadari kehadiran kami, dua anak manusia yang tersesat di daerah mereka.
Sebenarnya satu anak yang tersesat, yang satunya lagi nampak sudah tak asing lagi dengan kawasan tersebut.
“Waaaaaa…” Adi tiba-tiba berteriak dengan amat lantang.
“Hwwaaa…” Aku pun ikut teriak, saking terkejutnya aku terjatuh.
Adi tertawa terpingkal-pingkal. Aku berdiri dan mengibaskan tanah yang menempel pada bajuku.
“Sita takut?” Adi bertanya, sambil membalikkan badan dan melanjutkan perjalanan.
“Ayo cepat, nanti kita terlambat.” Adi melambaikan tangannya, mengisyaratkanku untuk bergegas.
Cukup...Dengan kesal, kulepaskan sendal sebelah kananku dan kulempar dengan segenap hati.
BLETAKtepat pada sasaran.
Aku tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Aduh, apaan sih?”Adi mengusap-usap kepalanya sembari menatapku.
Aku berdiri bertolak pinggang, geram dengan keisengannya.
Adi membungkuk dan mengambil sendalku yang tergeletak di tanah, senjata yang baru saja menghantam kepalanya. “Sendal bagus kok dibuang-buang, dasar aneh..”
“Sit, lemparanmu kurang mantap. Perhatikan aku ya, kuberi contoh cara melempar yang benar.”
Kulihat Adi melempar sejauh-sejauhnya sekuat tenaga, dalam sekejap benda itu lenyap ke dalam hutan.
Sendalku…Aku tak bisa berkata-kata.
Salahmu sendiri Sita…Jangan coba-coba menantangnya, tidak akan bisa menang dari Adi.
Dengan sebelah kaki beralaskan sendal, aku menghampirinya. Rasa lelah dan kesal sudah bercampur aduk. Aku hanya ingin petualangan ini segera berakhir agar aku dapat kembali pulang ke rumah.
“Sebentar lagi kok Sit” Adi menepuk bahuku. Aku mengangguk tanpa semangat dan mengikutinya. Tak lama kemudian, kami berhenti di depan pohon yang amat tinggi.
Adi mendongak ke atas, “Siap Sit?”
“Siap naon?”
“Kamu nggak takut ketinggian kan?”
Aku menggelengkan kepalaku, “Nggak…”
“Ya udah, mau aku duluan atau kamu duluan?”
“Maksud kamu manjat pohon ini?” jawabku sambil menunjuk ke pohon yang puncaknya hampir menyentuh langit.
Adi mengangguk.
Dengan tenaga otakku yang masih tersisa aku berpikir sejenak, kusingkirkan emosiku dan kugunakan logikaku.
Hmm.. Kalau aku manjat duluan, nanti dikerjaiin Adi dari belakang. Tapi kalau Adi manjat duluan, nanti aku nggak tahu apa yang ada di belakang aku, kalau nanti ada ular lagi.. Hiii…“Aku duluan” dan kutanggalkan sendal jombloku, dan mulai memanjat. Untungnya pohon tersebut tidak terlalu berlumut, sehingga aku mudah menapakkan kakiku. Kemampuanku memanjat pohon memang bisa digolongkan sebagai pemula, tapi ini bukan pertama kalinya aku memanjat.
Kalau naiknya sih tidak masalah, tapi kalau turunnya…Setelah beberapa waktu, Adi tak kurun juga mengisyaratkan kami untuk berhenti, ia nampak sabar mengikuti gerakan memanjatku yang lambat. Tiba-tiba aku terpeleset, pijakan kakiku kurang tepat sehingga serpihan kayu berhamburan ke bawah, tepat di muka Adi.
“Aduh, maaf di...”
“Nggak apa-apa. Terus aja sit…”
“Iya di”
Aku kembali memanjat ke atas dengan perlahan, terkadang pandanganku tersilaukan oleh matahari senja yang semakin lama terlihat semakin jelas.
Tak lama kemudian, kudengar Adi memanggilku dari bawah,
“Sit, di sebelah kanan kamu, ada batang kayu. Berhenti di situ ya”
Kutengok ke samping kananku dan dengan hati-hati kuberpijak di batang kayu yang Adi sebutkan. Kemudian Adi menyusul dan duduk di sampingku. Kami berada di posisi yang amat tinggi. Deru anging menyapaku, mengibaskan helaian rambut di wajahku dan menyeka keringat di keningku.
“Jadi menurutmu bagaimana?” Tanya Adi.
Kuacuhkan pertanyaannya sembari menepuk-nepuk kedua tanganku, untuk membersihkan serpihan kayu dan lumut yang melekat.
“Ih, ditanyaiin kok diem aja”
“Bentar kenapa? Nggak liat apa orang lagi capek, napas dulu kali”, jawabku kesal.
Adi tertawa kecil.
“Coba lihat ke depan deh Sit”
Aku terpana… Sudah puluhan kali aku melihat matahari terbenam, namun entah mengapa kali ini sungguh berbeda. Kesal, letih, dan emosiku menguap dalam seketika. Aku terhisap dalam ketakjubkanku
“Subhannallah…”
Tak sepatah kata pun terucap, kami berdua terpukau menatap langit yang seketika diselimuti oleh beragam warna.. merah, oranye, kuning.
Awan bergulung silih berganti, perlahan menggeser satu sama lain. Kesunyian menemani kami menyaksikan salah satu keindahan alam yang merupakan anugerah dan bukti akan keagungan Yang Maha Kuasa.
Sungguh mempesona…Kami bisa melihat segalanya dari atas sini. Sekolah kami, rumah-rumah penduduk, sungai yang tadi hampir kuselami. Sawah dan ladang padi yang kami lalui nampak seperti petak-petak kecil dengan petani-petani mungil.
Tiba-tiba Adi memecahkan keheningan, “Aku mau keliling dunia Sit.”
Aku meliriknya, “Semua orang juga pengen kali Di” jawabku.
Adi menggelengkan kepalanya.
“Aku serius Sit. Ingin kukunjungi tempat-tempat yang kita pelajari di buku-buku atau di TV. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, tidak hanya sebatas membaca deskripsi dari rangkaian kata-kata dalam lembaran buku. Aku ingin mengalami petualangan nyata yang tak terhalangi oleh layar kaca.”
“Aku akan kirim kartu pos ke kamu Sit, dari setiap tempat yang aku kunjungi.”
Aku yakin bila diantara kami akan ada yang berkelana ke negeri seberang, maka Adi-lah orangnya. Tanpa memalingkan pandanganku dari sang mentari,
“Siiippp dah, tapi kartu posnya musti foto kamu lagi salto ya?” ucapku sekenanya.
Kami berdua tertawa terbahak-bahak dikelilingi oleh kemerahan matahari senja yang perlahan meredup.
---------------
“Neng Sita”. Kudengar bibi memanggilku.
Kubuka pintu kamarku dan bertanya, “Sudah datang bi?”
Dengan segera, kuhampiri bibiku yang baru saja mengosongkan kotak surat kami. Kutelusuri tumpukan surat tersebut.
Dari bank, tagihan listrik, telepon, internet (waduh bahaya nih) buat papa, buat mama…Sampai akhirnya aku sampai pada sepucuk kartu pos yang selalu kunanti kehadirannya.
“Makasih ya bi” kukembalikan surat-surat lainnya dan berlalu ke atas kembali ke kamarku.
Bibi tersenyum memandangku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kunyalakan
I-tunes lalu kembali merebahkan diri di kasur empukku. Kuamati kartu pos tersebut, kutelusuri sudutnya, perangko dengan warna bendera merah, putih dan hijau yang dicap
16 September 2004. Pada bagian depannya terpampang foto dari seseorang yang amat kukenal, si Bolang sedang salto di depan menara Pisa.
Aku tersenyum kecil, lalu kubalik kartu pos tersebut,
“Dear Sita, Alessandro del piero nesta giuseppe baresi cannavaro enrico alfonso paolo maldini …Apa artinya? kalimat tadi tidak lain hanyalah rentetan nama pemain-pemain bola Italia. Sayang sekali Sit, aku belum terlalu mahir untuk bisa menulis kartu pos ini dalam bahasa Italia …”xoxoxo
_DQ-